Bayar 500 juta untuk menikah ?

Ada nya peraturan baru perUndang – undangan di Indonesia mengenai kawin campur, Undang – undang yang akan di buat oleh pemerintah Indonesia yaitu Bagi siapa saja yang menikah dengan warga asing maka warga asing tersebut wajib membayar Deposit ke pemerintah Indonesia sebanyak 500 juta.

http://www.thejakartapost.com/news/2010/02/19/feby-febiola-refuses-marriage-bill.html?t=1266668875#comment-34382

Link di atas adalah mengenai peraturan perundangan yang akan di berlakukan bagi mereka yang menikah dengan warga asing. Saya sebagai warga Indonesia sangat menentang peraturan perUndang – undangan ini, karena menurut saya peraturan tersebut sama hal nya dengan menjual anak – anak Bangsa Indonesia kepada warga asing. Dan dengan adanya deposit tersebut maka warga asing akan merasa sepele bahkan dapat menghina dan memperlakukan anak – anak Indonesia sebagai permainan dimana dengan membayar deposit tersebut mereka merasa memiliki hak untuk melakukan hal apa saja bagi wanita – wanita atau pria – pria Indonesia yang mereka nikahi.
Dengan deposit tersebut, maka warga asing tersebut akan merasa telah MEMBELI anak – anak bangsa Indonesia dari pemerintah Indonesia.
Disisi lain, yang membuat warga Indonesia menjadi bingung, kenapa pemerintah tidak membuat aturan Undang – undang buat membantu mereka yang tidak mampu dengan memberantas korupsi habis – habisan dan memenjarakan siapa saja dalang dari korupsi dan kemiskinan di Indonesia.
Selain itu, saya tidak setuju dengan peraturan yang akan di muat karena menurut saya, Orang tua mereka yang menikah dengan warga asing itu lah yang lebih pantas mendapatkan dana , dan bukan pemerintah. Dengan alasan umum yaitu karena orang tua mereka lah yang telah mendidik, menyekolahkan dan membiayai hidup mereka hingga dewasa dan menikah bahkan apabila anak – anak mereka memiiliki masalah dengan suami atau istri – istri mereka yang berwarga asing, orang tua tersebut lah yang membantu mereka untuk mengatasi masalah mereka, bukan pemerintah.
Jadi dana apapun yang menurut saya wajib di bayar saat anak – anak bangsa menikah dengan siapa saja, maka hanya orang tua lah yang pantas mendapatkan dana tersebut, bukan pemerintah.
selain itu saya juga tidak setuju dan sangat menetang aturan yang akan di buat tersebut karena saya juga tidak ingin anak – anak bangsa di rendah kan oleh warga asing hanya karena pemerintah mewajibkan membayar deposit 500 juta untuk mendapatkan dan menikahi anak – anak bangsa Indonesia. hal ini sama dengan penjualan anak – anak bangsa kepada warga ASING.
Bagi mereka yang tidak setuju dengan aturan yang akan di buat tersebut silahkan bergabung di GROUP :

http://www.facebook.com/profile.php?ref=profile&id=1176154765#!/group.php?gid=341770342153&ref=mf

Investasi Terbaik

Lovina, Bali

Investasi dapat di katakan salah satu hobby atau sebagai pekerjaan paling mengasikkan dan paling baik untuk financial di hari kedepan.
Kebanyak investasi selama ini yang di lakukan oleh banyak awam adalah dengan bermain di saham Bank.

Namun sejak di tahun 2008 hingga 2010, Begitu banyak masalah yang tidak dapat di hindari dalam bermain saham. Hingga beberapa Bank yang hingga saat ini masih dalam penanganan atas tuntutan penanam saham yang merasa di rugi kan.

Bali adalah lahan Investasi yang saat ini di manfaatkan oleh mereka yang menyukai dunia berinvestasi. Bali adalah investasi terbaik, karena di Bali sangat mudah untuk memperoleh kembali nilai yang telah kita tanam untuk kita dapatkan kembali.

Kebanyak dari mereka yang berinvestasi di Bali adalah dengan membeli lahan lalu menjual kembali atau membeli lahan dan membangun sebuah Villa lalu menjual kembali kepada orang asing lain nya. Atau dengan membeli lahan, membangun sebuah Hotel atau bisnis apa saja dan dapat menuai dari bisnis tersebut di samping dari pekerjaan lain nya atau dari investasi lain nya.

Untuk sebuah Villa atau Hotel, Bali salah satu tempat terlaris dan terbaik memulai bisnis dan dengan mudah mendapatkan kembali modal yang tertanam dan menuai untung yang lumayan. Selain itu, berinvestasi berupa lahan atau property tidak merugikan. karena memiliki bentuk yang dapat kita olah dan juga investasi sejenis ini tidak tipe investasi hangus.

Keunggulan Menggunakan Agency Property

by Ammanda on February 14, 2010
in Business, Living in Bali, News, tourism

Lovina, Bali

Banyak nya kasus yang terjadi di Bali mengenai jual – beli Property adalah masalah yang sangat sulit di atasi. Beberapa masalah yang terjadi di Bali, tentang jual – beli property adalah banyak nya Surat Tanah yang ganda atau bermasalah dan banyak nya makelar – makelar yang menyalah gunakan pasaran harga property di Bali.
Sebenarnya Agency tidak jahu beda dengan Makelar, hanya saja Makelar tidak memiliki Ijin Usaha yang kuat di badan Hukum dan Makelar juga tidak benar – benar memahami property yang akan di jual.

Keuntungan menggunakan Agency Property adalah, Agency memiliki badan usaha dan memiliki kontrak khusus dan langsung dengan pemilik property yang akan menjual property tersebut. Selain itu Agency mengetahui sisi positif dan negatif dari property yang akan di jual.
Tiap Agency juga mengetahui apakah property tersebut layak bangun usaha atau tidak, apakah property tersebut layak untuk perumahan mewah atau bisnis, apakah property tersebut memiliki akses listrik, air atau tidak, apakah property tersebut memiliki IMB atau tidak.

Begitu banyak hal yang harus di pahami dan di ketahui oleh suatu property yang akan di jual, dan hal – hal tersebut yang akan di tanyakan oleh para konsumen yang mana sebagai Agency mereka akan memiliki semua jawaban untuk semua pertanyaan tersebut.
Sebagai Agency Property, mereka juga wajib memberikan informasi mengenai sisi Negatif dan positif dari produk yang mereka jual. Karena dengan begitu para konsumen akan merasa puas dengan kejujuran dan pelayanan dari Agency tersebut.

Sebagai bahan tambahan, Sebelum membeli sebuah property adalah, Memeriksa keapsahan Dokumen – dokumen proeprty tersebut, dari surat – surat tanah atau perumahan agar di check terlebih dahulu dan dokumen yang lain seperti pajak, air, listrik, telepon dan dokumen yang mendukung lain nya. Setelah semua dokumen benar – benar bersih dan setelah memeriksa apakah property tersebut memiliki sengketa atau tidak, apabila semua benar – benar bersih, maka silahkan melakukan transaksi.

Stress in Bali

by Mike on February 5, 2010
in Living in Bali

It is probably hard for people not living in Bali to believe, but sometimes life in Bali can actually be stressful. Not in the western 9-5 working week grind that most people are probably accustomed to, but trying to live in a different culture with a different language and values.

There is definitely a different perception of time. We ordered some custom furniture and it was only supposed to take one week, but we have been waiting now for more than one month for it to be delivered. I want to just cancel the order, but they stuff they make is really nice.

Earlier in the new year, we were robbed while we were sleeping. Fortunately not too much was taken, but the thought of having someone enter your home while you are asleep has been playing on my mind, even one month later. I tend to wake at the slightest sound.

I could go on, but if you are planning on moving to Bali and expecting it to be one long vacation, then think again. To be honest though dealing with these different kinds of “problems” is always a lesson in itself and you can always look back on the various experiences later and have a good laugh. Even when we were robbed, I was amazed at how the community and our friends came together to support us.

I love being able to take the dog for a walk in the cool, late afternoon, through the rice fields, along the beach, stopping every now and again having a chat to anyone who will talk to me and finally ending up in a restaurant to have a cold Bintang while watching the sun go down. Bali – the almost perfect paradise.

Better late than never

by Mike on February 2, 2010
in Living in Bali

I have to apologize for the lack of updates on this blog. I meant to do a wrap for 2009 and never got around to doing that and now it is already February!

I remember back when I was working in a regular IT job how slow the week used to go as you looked forward to the weekend. Living in Bali (unless of course if you are working) is really one long weekend. I often lose track of the days. Balinese themselves follow their own calendar, so they don’t necessarily follow a regular Monday to Friday week. I think only government and bank employees have a regular working week.

So for having such a relaxed life here, time goes surprisingly fast. Even if you are retired here, or just taking an extended break from work, you will probably be surprised how active you will be. Of course I don’t mean in the usual busy western working lifestyle, but in socializing with other expats and your Balinese friends.

I have many plans and ideas for the year, but as anyone who has lived in Bali before knows, you often hit various hurdles that seem to block your every move.

If you don’t have any patience or can’t learn to be a patient person, living in Bali could be a nightmare!

Rainy season

by Mike on December 29, 2009
in Living in Bali

I am living in the north of Bali, near Lovina. Lovina is quite dry compared with southern Bali and is described as a sub-tropical region.

The rainy season is supposedly late starting this year and for the past couple of days it has been raining quite a bit. It’s actually a bit of a new experience having to think about the weather when trying to make plans to go out.

Not that I am complaining though, the area badly needs water. For having so little rain, throughout most of the year, the vegetation is still fairly rich and with the extra water now, the landscape is a beautiful, lush green.

The power blackouts continue

by Mike on November 28, 2009
in Living in Bali

For the past couple of weeks, we have been without power once every four days, just for the evening. It was a little frustrating at the beginning. It seems to go off just as you are watching something good on television or working on something on the internet.

After a few blackouts though, you get used to it and it is actually a good chance to have a quiet candle lit dinner and just sit outside in the peace and quiet. As long as you don’t look at the clock, it somehow feels much later just using candles for light and it surprisingly easy having an early night.

Tanah Lots, Bali

by Ammanda on October 30, 2009
in Living in Bali, News, Travel

tanah lot7

tanah lot 3

tanah lot lg4

Tanah lots, Bali, Indonesia adalah salah satu tempat wisata yang sangat menarik dimana di tempat ini kamu dapat melihat keindahan bali yang masih natural. Di tanah lots ini, selain kamu bisa melihat keindahan alam bali dengan pantai yang indah dan ombak yang menerjang karang di sekitaran tanah lots, kamu juga akan melihat pura yang tepat berada di atas bukit. Pura yang besar dan masih aktif hingga saat ini. Di tanah lots ini juga kamu bisa melihat tarian bali yaitu tarian kecak. Tarian dari seni kebudayaan bali yang di gunakan untuk acara – acara khusus di bali.

Bali facing more electricity shortages

by Mike on October 8, 2009
in Living in Bali, News

Electricity supply has not been able to handle the growth in new development in Bali.

Electricity supply in Bali has once again been disrupted. The supply from the Gilimanuk Gas and Steam Power Plant had to be reduced by 130 megawatt due to maintenance operations.

The Gilimanuk Power Plant will be under maintenance from October 10 until December 6 and could lead to further power shortages.

Bali governor, Made Mangku Pastika, said he will seek alternative sources of energy, such as constructing a high-voltage electricity network that stretches across the Bali Strait.

It would be nice if they would consider “greener” electricity supplies, like wind or solar. Or even if they required hotels to use solar power for their outside lighting, which would at least be seen as a positive move.

Sometimes I can’t understand Indonesian people

by Mike on October 6, 2009
in Living in Bali, Property

I have lived in Japan and China and have now been living in Indonesia for most of this year. It is still taking me time to try and understand how people think here. The longer you stay and the more different experiences you have, the more things you pick up everyday.

The pace of life is slow here in Bali, which is one of the attractions for me to live here. Balinese people spend most of their time meeting their friends, attending ceremonies, talking, cooking and eating. When they get on a motorbike however, it’s as though they can’t spare a minute and just have to get to their destination in a heart beat. The result is some very nasty accidents. I am sure many of them are due to speed and reckless overtaking more than anything else. Once people get to their destination they are more than likely only going to be sitting around drinking coffee and smoking, so I am always wondering what could the rush be?

I am now interested in buying a house here. The house I am interested in, is only small but it had a vacant block of land next door which was included in the price. The land would have been good for a swimming pool, extending the existing house, or even building a brand new house to live in or rent out.

The seller explained that it was on a separate title, which was fine with me. We had a meeting with the seller and the notaris this morning and discovered that the seller didn’t even own the vacant land and it was his “friend’s” land. His friend is currently working on a cruise ship and it would be some time before he got back to Bali.

The seller has bought and sold properties before, so I wondered how he thought he would be able to sell off a piece of land that wasn’t even his and didn’t have the title for the land. The house by itself is nice enough. A foreigner had been renting it up until now and it is a comfortable enough place to live and I am sure can be rented out fairly easily.

I just can’t work out why the seller wasn’t upfront about who owned the land. He said he had his “friend’s” permission to sell the land. Yeah, right! I have seen the house a couple of times now and the owner keeps dropping the price, because he says he really needs money. I am still interested in the house, so I made an offer much lower than what the seller wants.

I wonder now how he will react. I imagine most people would just walk away from the deal. What do you think you would you have done?

Next Page »